Properti merupakan aset berharga yang mahal harganya. Dibutuhkan uang dalam jumlah yang banyak untuk memilikinya. Sementara kebutuhan properti terutama rumah tinggal pertama (primer) tiap tahun semakin meningkat. Sudah menabung bertahun-tahun, tapi karena harga properti  selalu naik, maka tetap saja untuk sebagian orang, sulit untuk membeli properti secara tunai. Solusi karena tidak dapat membayar tunai yaitu melalui kredit/mencicil. Terdapat beberapa skema pembayaran melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR); ada yang KPR syariah, KPR menggunakan bank syariah dan ada pula KPR yang menggunakan bank konvensional.

Perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah dan KPR Konvensional

1. Pihak yang bertransaksi:
  • KPR syariah : 2 pihak, yaitu antara pembeli dan developer
  • Bank syariah : 3 pihak, yaitu antara pembeli, developer dan bank syariah
  • Konvensional : 3 pihak, yaitu antara pembeli, developer dan bank konvensional

Maka harus kita cermati, apakah KPR menggunakan bank baik bank syariah atau bank konvensional terjadi transaksi jual beli atau hanya pendanaan dari bank? Jika memang jual beli, maka halal. Namun, jika pendanaan dari bank, maka haram.

2. Barang Jaminan
  • KPR syariah : rumah yang diperjualbelikan/kredit tidak dijadikan jaminan
  • Bank syariah : rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan
  • Konvensional : rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan

Ada ikhtilaf ulama mengenai apakah barang yang diperjualbelikan BOLEH dijadikan jaminan atau dilarang? Dalam hal ini, KPR syariah mengambil pendapat bahwa rumah yang sudah diperjualbelikan/kredit dikarang dijadikan jaminan.

3. Sistem Denda
  •  KPR syariah : tidak ada denda
  • Bank syariah : ada denda
  • Konvensional : ada denda

Dalam KPR syariah TIDAK BOLEH ada denda jika ada keterlambatan pembayaran, karena hal tersebut termasuk riba (tambahan). Dalam jual beli kredit maka sejatinya adalah utang piutang. Jadi jika harga sudah di-akad-kan, maka tidak boleh ada kelebihan sedikitpun, baik dinamakan denda, administrasi atau bahkan infaq sekalipun. Karena ini termasuk mengambila manfaat dari utang-piutang yaitu riba.

4. Sistem Sita
  • KPR syariah : tidak ada sita
  • Bank syariah : tidak ada sita
  • Konvensional : ada sita

Dalam KPR syariah TIDAK BOLEH melakukan sita jika pembeli tidak sanggup mencicil lagi. Karena rumah tersebut sudah sepenuhnya milik pembeli walaupun masih kredit. Solusinya adalah pembeli ditawarkan untuk menjual rumahnya, baik pembeli sendiri yang menjual ataupun dengan bantuan developer.

Jika misal sisa utang masih 100 juta, kemudian rumah terjual 300 juta. Maka pembeli membayar sisa utang yang 100 juta, dan nilai 200 juta adalah hak pembeli.

5. Sistem Pinalti
  • KPR syariah : tidak ada pinalti
  • Bank syariah : tidak ada pinalti
  • Konvensional : ada pinalti

Jika pembeli mempercepat pelunasan, misal dari tenor waktu 10 tahun kemudian di tahun ke-8 mampu melunasi, maka tidak ada pinalti dalam KPR syariah, karena pinalti adalah riba. Bahkan developer syariah dapat memberi diskon atau hadiah yang nilainya dikeluarkan saat pelunasan terjadi (tergantung developernya).

6. Sistem Asuransi
  • KPR syariah : tidak ada asuransi
  • Bank syariah : ada asuransi
  • Konvensional : ada asuransi

Dalam KPR syariah tidak memakai asuransi apapun karena asuransi adalah haram. Didalamnya terdapat riba, ghoror, maysir, dan lain-lain.

7. Sistem BI checking/bankable
  •  KPR syariah : tidak ada BI checking/bankable
  • Bank syariah : ada BI checking/bankable
  • Konvensional : ada BI checking/bankable

Dalam KPR syariah tidak ada BI checking/bankable karena KPR syariah tidak bekerjasama atau  pendanaan dari bank. Hal ini memberikan kemudahan bagi calon pembeli yang kesulitan jika melalui sistem BI checking/bankable, seperti:

a. Karyawan Kontrak

Syarat lolos BI checking/bankable secara umum adalah karyawan tetap. Jadi bagi karyawan kontrak akan kesulitan jika ingin membeli rumah melalui bank.

b. Pengusaha/pedagang kecil

Syarat lainnya yang bisa meloloskan calon pembeli dari BI checking adalah pengusaha yang memiliki ijin usaha dan laporan keuangan. Jadi bagi pedagang kecil seperti tukang gorengan, pedagang kecil pinggir jalan, dan lainnya akan sulit jika ingin memiliki rumah lewat bank.

c. Usia Lanjut

Calon pembeli yang usianya di atas 50 tahun maka tidak akan bisa membeli rumah lewat bank, karena ada batasan usia produktif jika membeli lewat bank.

Itulah penjelasan tentang perbedaan KPR syariah dengan KPR yang menggunakan bank syariah maupun KPR secara konvensional.

KPR syariah insya Allah dalam transaksinya terhindar dari sistem ribawi dan juga banyak kemudahan yang diberikan bagi para calon pembeli. Karena riba diharamkan oleh Allah SWT. Hal ini terdapat di dalam Al Quran dan Hadits. Silahkan klik Riba Di Dalam Al Qur’an dan Hadits

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kemudahan bagi kita semua untuk memiliki properti dengan sistem syariah tanpa riba.

Aamin…

0 Komentar