Secara ringkas, akad ISTISHNA’ adalah Skema Pesan Bangun. Ini termasuk salah satu skema bisnis yang diperbolehkan dalam syariat dan masih ada skema bisnis yang lain (murabahah, salam, dst).

Dalil yang digunakan dalam skema Istishna’ adalah ketika Rasulullah SAW memesan cincin dan mimbar.

Istishna’ adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna’a-yastashni’u, artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Adapun dalam istilah syar’i, istishna’ termasuk dalam jual beli (al bay’) dimana para ulama fiqih menggolongkan bay’istishna’ ke dalam bay’ salam. Bay’salam adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan di muka.

Dalam pelaksanaanya, pembeli melakukan pembayaran penuh di muka sementara penjual akan menyerahkan barang secara penuh di akhir. Biasanya komoditas yang ditransaksikan adalah komoditas pertanian seperti padi, buah-buahan, dan sebagainya.

Adapun bay’ istishna’ adalah pembelian barang dengan pembayaran bertahap sesuai dengan progres pembuatan barang pesanan. Misalkan dengan memberikan uang muka di depan dan pelunasannya di akhir setelah barang pesanan selesai dibuat atau dicicil tahap demi tahap tertentu atau seluruh pembayaran dilakukan di belakang.

Transaksi jenis ini biasanya untuk produk manufaktur seperti gedung, mobil, perabotan rumah dan sebagainya.

Hukum bay’ istishna’ adalah boleh atau mubah berdasarkan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang tidak ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS Al Baqarah: 282).

Dalam istishna’, bahan baku dan pekerjaan penggarapannya menjadi kewajiban pembuat barang. Jika bahan baku disediakan oleh pemesan dan dia meminta dibuatkan barang tertentu dengan bahan baku tersebut, maka akad-nya berubah menjadi ijaroh, bukan jual beli. Sementara manufaktur hukumnya juga boleh dan telah dinyatakan oleh sunnah.

Rasulullah SAW pernah membuat cincin. Anas ra menyatakan: “Rasulullah SAW pernah membuat sebuah cincin” (HR Bukhari).

Rasulullah SAW juga pernah membuat mimbar. Sahal ra berkata: “Rasulullah SAW pernah mengutus seseorang kepada seorang wanita untuk memerintahkan puteranya yang tukang kayu agar membuat mimbar untukku” (HR Bukhari).

Muslim, terutama pengusaha Muslim di masa sekarang akan berinteraksi dengan kegiatan transaksi jual beli dan manufaktur seperti dijelaskan di atas, Oleh karena itu, Syeikh Taqiyuddin An Nabhani secara khusus menuangkan pembahasan tersebut dalam bab Al Bay’ Wal Istishna’ di dalam buku Nidzam Iqtishadiy Fil Islam.

Dalam bukunya Nidzam Iqtishadiy Fil Islam, beliau mengingatkan bahwa walaupun industri manufaktur telah berkembang menjadi industri modern, bukan berarti hukum-hukum Islam tidak mengatur aspek-aspek kegiatan manusia di dalamnya.

Industri modern maupun tradisional yang manual tidak akan lepas dari hukum-hukum kerjasama usaha (syirkah), jasa, jual beli dan perdagangan luar negri. Saat seseorang ingin mendirikan industri manufaktur modern, hampir bisa dipastikan sebagian besar industri didirikan dengan kerjasama modal dari sejumlah orang. Bila kondisinya demikian, maka berlaku hukum kerjasama usaha Islami (Asy Syirkah Al Islamiyah). Adapun dari segi administrasi, kerja dan proses pembuatan barang berlaku hukum-hukum seputar ijaroh atas pekerjaannya, sementara dari segi pengelolaan hasil produksi akan terikat dengan hukum-hukum jual beli dan perdagangan luar negeri,

Demikianlah penjelasan mengenai Akad Istishna’ yang banyak digunakan dalam transaksi jual beli properti syariah.

Semoga bermanfaat.

Wallahualam bissawab.

0 Komentar